Dalam bentang sejarah Nusantara yang gemilang, terselip kisah-kisah dari dusun terpencil yang jarang tertulis di kitab-kitab besar. Salah satunya adalah kisah tentang seorang Punggawa Dusun—seorang pemimpin yang diamanahi menjaga padepokan tempat para cantrik menimba ilmu—dan bagaimana ia memainkan “wayang” aturan untuk kepentingannya sendiri.
Kisah ini bukanlah tentang peperangan antar kerajaan, melainkan tentang perang sunyi melawan ketidaktahuan.
Titah yang Dibungkus Kabut
Di padepokan tersebut, hiduplah para Cantrik Senior (guru/pengajar) yang tekun. Mereka ahli dalam ilmu sastra dan budi peerti, namun sayang, mereka jarang menengok ke luar pagar padepokan untuk membaca Prasasti Hukum yang dikeluarkan oleh Kerajaan Pusat.
Melihat celah ini, sang Punggawa Dusun mulai menyusun siasat. Setiap kali ada utusan dari pusat membawa kabar tentang “Tunjangan Kesejahteraan” atau “Izin Praktik”, sang Punggawa akan mengumpulkan para cantrik di balairung yang remang-remang.
Ia tidak menjelaskan aturan itu apa adanya. Sebaliknya, ia membungkus titah tersebut dengan “kabut” ketakutan.
“Ketahuilah wahai para cantrik, aturan dari pusat ini sangatlah rumit. Jika kalian salah melangkah sedikit saja, namamu akan dihapus dari daftar kerajaan, dan kalian tidak akan lagi menerima kepingan emas bulanan,” ucapnya dengan nada yang dibuat prihatin.
Upeti di Balik “Jasa Pengurusan”
Ketakutan adalah komoditas yang mahal. Ketika para cantrik mulai panik karena merasa terancam kehilangan penghidupan, sang Punggawa menawarkan solusi yang tampak seperti pahlawan.
“Namun jangan khawatir, sebagai pemimpin kalian, aku punya akses khusus ke istana. Aku bisa menjamin posisi kalian tetap aman, asal kalian mengerti cara ‘berterima kasih’ atas lelahku menembus hutan menuju pusat kerajaan.”
Baca Juga : Tata Krama Abdi Dalem: Kepatuhan Sejati atau Sekadar Pandai Sowan?
Maka terjadilah sebuah tradisi gelap. Sebagian kepingan emas yang seharusnya menjadi hak penuh para pengajar, harus disisihkan untuk sang Punggawa. Ada yang memberinya dalam bentuk koin, hasil bumi, hingga “pengabdian tambahan” yang tak masuk akal. Semua dilakukan para cantrik demi satu hal: rasa aman yang sebenarnya adalah hak mereka sejak awal.
Memanfaatkan Celah Literasi
Mengapa hal ini bisa terjadi di bumi Nusantara yang katanya luhur? Jawabannya adalah lemahnya literasi terhadap aturan.
Punggawa tersebut tahu benar bahwa selama para pengajarnya hanya fokus pada naskah pengajaran dan enggan mempelajari Undang-Undang Kerajaan, maka ia akan selalu memiliki senjata untuk mengintimidasi. Ia memelihara ketidaktahuan itu seperti memelihara angsa petelur emas.
Setiap kali ada cantrik muda yang kritis mencoba bertanya, sang Punggawa akan langsung melabeli mereka sebagai “pembangkang titah” atau “perusak harmoni padepokan”.
Pesan dari Masa Lalu untuk Masa Kini
Alkisah ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan yang berlandaskan manipulasi tidak akan pernah membawa kemajuan bagi sebuah peradaban. Seorang pemimpin sejati seharusnya menjadi pelita yang menerangi aturan yang rumit, bukan malah menjadikannya gelap demi keuntungan pribadi.
Bagi kita yang hidup di masa sekarang, pelajaran moralnya sangat jelas:
- Pahami Aturan: Jangan biarkan nasibmu digantungkan pada interpretasi satu orang. Bacalah sumber aslinya.
- Berani Bersuara: Integritas adalah fondasi. Memberi “uang pelicin” karena takut hanya akan melanggengkan budaya korup.
- Kepemimpinan adalah Pelayanan: Seorang pemimpin yang memeras bawahannya dengan memanfaatkan ketidaktahuan mereka adalah pengkhianat amanah.
Semoga kisah dari dusun di pelosok Nusantara ini menjadi cermin bagi siapa saja yang memegang tongkat kekuasaan. Karena pada akhirnya, sejarah hanya akan mencatat mereka yang membangun manusia, bukan mereka yang memangsa sesamanya.




Leave a Comment